Liputan Khusus

Bukan Sekadar Angan, Konektivitas Transportasi Kini Hadir Merajut Pulau Paling Selatan Indonesia

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Kamis, 05 September 2019
Jumlah Dilihat: 3079 kali

“Saudara-saudaraku dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Kami akan kembangkan kawasan industri yang didukung oleh pembangunan infrastruktur transportasi untuk memperlancar konektivitas yang menghubungkan setiap jengkal wilayah Nusantara,” berikut kutipan pidato kenegaraan Presiden RI Joko Widodo pada Tahun 2017. Sejak itulah konektivitas transportasi terus digaungkan dan menjadi rindu bagi saudara kami di pulau perbatasan Indonesia.

Kawula Moda, dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas), kami tim “Ekspedisi Penghubung Indonesia”, Biro Komunikasi dan Informasi Publik (BKIP) Kementerian Perhubungan melakukan perjalanan menuju pulau paling selatan Indonesia, yaitu Pulau Rote. Sesuai tema Harhubnas tahun ini “Menyambung Nusantara, Merajut Bangsa”, kami ingin menginformasikan kepada Kawula Moda bahwa konektivitas transportasi telah “hadir” di salah satu pulau terluar di Indonesia tersebut.

“Sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara El Tari Kupang,” suara pramugari dari pesawat yang kami naiki dari Jakarta itu menandakan penjelajahan transportasi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dimulai. Langit biru yang merekah dan teriknya matahari seakan mendukung tiap langkah kami menelusuri Kota yang dikenal sebagai ‘Kota Kasih’. Kota ini merupakan pintu gerbang satu-satunya menuju Pulau Rote. Sebelum kita ke Pulau Rote, perkenalkan inilah Kota Kupang dengan kesibukan transportasi lautnya.

Kawula Moda sudah tahu? kalau Kota Kupang itu mempunyai tiga pelabuhan yaitu Pelabuhan Bolok, Pelabuhan Tenau dan Pelabuhan Rakyat. Semuanya dalam pengawasan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Pelabuhan Bolok melayani penyeberangan orang dan muatan barang untuk ke Pulau Rote dengan menggunakan KM Ranaka. Kapal berkapasitas 1600 GT tersebut dapat menampung sekitar 196 orang dengan harga tiket antara Rp. 59.000-63.000, yang berlayar pada pagi hari pukul 06.00 WITA menuju Pelabuhan Pantai Baru, Rote dengan waktu tempuh 3,5 jam. Untuk mendapatkan tiketnya, Kawula moda bisa langsung menuju loket di Pelabuhan Bolok atau Kantor Pos di daerah Kota Kupang.

Tim Ekspedisi Penghubung Indonesia berkesempatan menelusuri KM Ranaka hingga ke ruang kendali Nakhoda dan juga berbincang dengan beberapa penumpang. “Pakai kapal ini nyaman sekali, apalagi saya bawa anak, nyaman banget. Saya sudah sering juga naik kapal ini untuk ke Rote,” begitu kata Ibu Janiah (32), salah satu penumpang kapal yang kami temui. Ibu yang membawa tiga anak dalam perjalanannya tampak menikmati dengan asyik bermain dan tertawa bersama anak nya. Menurutnya dengan harga yang ditawarkan masih sangat terjangkau.

Penumpang lainnya yang kami temui, bernama Rinciado (29) juga bercerita dirinya sangat tergantung dengan KM Ranaka untuk beraktivitas dari Kota Kupang- Pulau Rote. “Kapal ini sangat membantu sekali untuk saya. Karena mempunyai ketepatan waktu berangkat yang baik. Tapi kalau cuaca buruk ya terkadang tidak jalan juga,” ucapnya sambil mendekap tas yang ia bawa.

Mendengar ungkapan ketulusan dari beberapa penumpang tersebut membuat kami sebagai Insan Perhubungan semakin bersemangat memberikan fasilitas transportasi lebih baik lagi untuk masyarakat.

Tentunya semua kenyamanan tersebut tidak akan berarti jika aspek teepenting yang harus diperhatikan dalam bertransportasi diabaikan. Kawula Moda pasti tahu apa aspek penting tersebut? Ya benar, aspek Keselamatan merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan dalam bertransportasi.

Seperti yang dijelaskan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha KSOP Kelas III Kupang Mahmud Sengaji yang menemani kami berkeliling Kapal Rancaka. “Dalam melakukan penyeberangan kami pastinya mengutamakan keselamatan, semua alat keselamatan sudah sesuai SOP di dalam kapal. Setiap harinya kami berkoordinasi dengan BMKG terkait cuaca, jika cuaca tidak baik pastinya kami akan putuskan dan tidak mengizinkan berlayar,” ungkap Bapak yang sangat ramah itu.

Laut di Kota Kupang memang indah dan jernih, bahkan kita bisa menikmati pemandangan tersebut tidak hanya di pantai tapi juga di Pelabuhan Bolok. Layaknya aquarium, kalian bisa menikmati berbagai jenis ikan yang berenang bersama dengan mata telanjang tanpa alat bantu apapun. Sungguh pemandangan yang langka di Jakarta.

‘Tuttttttttt’ bunyi klakson KM Ranaka tanda mereka harus pergi berlayar ke Rote, kami melepas dengan senyuman dan lambaian tangan.

Pelabuhan Tenau Dengan Sejuta Kesibukannya

Perjalanan kami berlanjut ke Pelabuhan Tenau yang juga terdapat di Kota Kupang. Di Pelabuhan ini terlihat aktivitas yang cukup sibuk. Ada yang menurunkan barang dari Kapal Ternak yang baru saja bersandar. Ada juga wisatawan asing yang menuju dermaga Kapal Bahari Ekspress untuk menyeberang ke Pulau Rote.

Perlu Kawula Moda tahu jika ingin menuju Pulau Rote, selain menggunakan KM Ranaka di Pelabuhan Bolok, kalian juga bisa menggunakan Kapal Cepat (Spead boat) dari Pelabuhan Tenau dengan waktu tempuh dua jam perjalanan dan berlabuh di Pelabuhan Ba’a Rote. Tapi kalian harus rela mengkocek kantung lebih dalam, karena harga kapal cepat lebih mahal dua kalilipat dibandingkan KM Ranaka.

Untuk jadwal Kapal Bahari Ekspress dari Kupang ke Rote berlayar setiap hari pada pukul 09.00 WITA sedangkan Rote ke Kupang pukul 12.00 WITA. Harga kapal cepat sekitar Rp. 179.000, untuk lebih jelasnya kalian bisa langsung cek website ekpressbahari.com atau Instagram nya di @ekspressbahariindo.com.

Kenapa Pelabuhan Tenau menjadi istimewa di Kota Kupang? Karena pelabuhan ini merupakan pusat pendistribusian logistik dan bahan bakar ke Pulau Rote. Dan ternyata, kondisi cuaca di sini cukup ekstrem. Berdasarkan cerita yang kami dapat dari para awak kapal, mereka harus menerjang arus dan tinggi ombak yang bisa mencapai 3-6 meter. Pasalnya mereka harus melalui titik pertemuan angin dari dua benua yaitu Australia dan Asia, itu yang membuat cuaca ekstrem di Kupang-Rote kerap kali terjadi. Maka dari itu, aspek keselamatan menjadi hal yang sangat penting yang harus dijaga.

Sebelum kami menyeberang ke Pulau Rote menggunakan kapal cepat, tim ekspedisi penghubung Indonesia juga berkesempatan mengeksplore Kapal Negara Kenavigasian yang ada di Dermaga Distrik Navigasi Kelas II Kota Kupang. Kapal tersebut memberikan pelayanan untuk pemasangan dan penempatan Pelampung Suar, perawatan dan perbaikan sarana bantu navigasi pelayaran pada alur perlintasan serta alur masuk pelabuhan. Juga untuk mengantarkan para penjaga mercusuar dengan logistiknya, bisa juga membantu pencairan dan pertolongan serta evakuasi korban musibah di laut, bisa juga untuk mengangkut penumpang dan barang pada situasi tertentu.

Konektivitas Transportasi Di Pulau Selatan Terluar Indonesia Sudah Maju

Tim ekspedisi penghubung Indonesia memulai perjalanan ke Rote dengan menggunakan Kapal Cepat. Perjalanan menggunakan jalur laut itu sangat menyenangkan lho Kawula Moda. Kalian bisa menikmati pemandangan hamparan birunya air laut dan langit. Kapal cepat juga mempunyai fasilitas seperti tempat karoke juga diberikan makanan ringan. Tidak terasa dua jam berlalu, bangunan mercusuar di Pelabuhan Ba’a sudah terlihat menandakan bahwa kapal ini akan sampai ke pulau paling selatan di Indonesia.

Tim kami disambut oleh senyum ramah dari teman-teman Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Ba’a Rote Ndao. “Sekarang transportasi kita maju, destinasi wisata di sini (Pulau Rote) juga sudah mulai diperhatikan oleh Pemerintah Daerah. Karena wisatawan baik domestik dan mancanegara telah sampai ke sini,”demikian dikatakan seorang petugas Kantor UPP Kelas III Ba’a Rote, Yunus Kolifay saat berbincang di kantornya.

Perbincangan kami terasa hangat dan cair, Yunus juga menjabarkan pergerakan jumlah penumpang di Pelabuhan Ba’a di Tahun 2018 mencapai 130.357 penumpang dan hingga bulan Juli 2019 sudah mencapai 71.047. Sedangkan penumpang di Pelabuhan Pantai Baru pada tahun 2018 mencapai 91.748 penumpang dan hingga bulan Juli 2019 mencapai 49.425 penumpang.

Seorang Ibu Petani rumput laut di Pantai Nembrala, Rote yang sempat berbincang dengan kami menyatakan bahwa semenjak adanya transportasi laut dan udara berpengaruh sekali dengan kehidupannya. Kalau dulu sebelum adanya transportasi laut dan udara BBM langka sehingga harga di Rote bisa selangit, kini sudah mulai masuk akal.

Bandara D.C Saudale Rote Ndao Dibangun Karena Rindu Transportasi

Setelah dari Pelabuhan Ba’a tim ekspedisi penghubung Indonesia juga menghampiri Bandar Udara D.C Saudale yang merupakan Bandara paling selatan di Indonesia. Dimana ada cerita yang menarik dari sejarah pembanguan bandara ini, Kawula Moda.

“Bandara ini dibangun karena masyarakat Rote merindukan transportasi ke Kupang,” ucap Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) D.C Saudale, Charles Malaikosa.

Bapak Charles dengan semangat bercerita tentang sejarah pembangunan bandara yang sangat penting bagi konektivitas penerbangan Rote-Kupang-Rote. Jadi begini Kawula Moda, tahun 1969 bandara di Pulau Rote dibangun dengan cara swadaya masyarakat, dipimpin oleh David Constantijn (D.C) Saudale yang masa itu menjabat sebagai pembantu Bupati wilayah Rote Ndao, Kabupaten Kupang.

“Pembangunan ini berjalan selama tujuh tahun dengan panjang landasan 900 m x 27 m. Awalnya bandara ini diberi nama Lekunik Rote. Tapi pada tahun 2010 terjadi perubahan nomenklatur sehingga nama bandara ini dirubah menjadi D.C Saudale. Sekaligus menghormati jasa beliau,” kenang Charles.

Saat ini Bandara D.C Saudale mempunyai panjang landasan 1650 m x 30 m dengan Taxy 75 m x 18 m dan Apron 120 m x 85 m. Bandara D.C Saudale dapat didarati Pesawat dengan type ATR- 72. Hingga tahun 2019 hanya ada satu maskapai yang masih melayani penerbangan yaitu Wings Air dari Lion Group. Pesawat paling pagi pukul 06.00 WITA dan penerbangan ke dua pukul 14.30 WITA, waktu tempuh Kupang-Rote-Kupang hanya 30 menit.

Jumlah penumpang datang ke Rote pada tahun 2018 mencapai 33.031 dan pergi sejumlah 34.295 orang, sedangkan untuk tahun 2019 hingga bulan Juli penumpang datang sebanyak 15.867, penumpang pergi 16.410 orang. Oh iya Kawula Moda di Bandara D.C Saudale juga masih ada peninggalan sejarahnya lho yaitu roda wales berwarna hitam membuat bandara ini semakin spesial.

Memanjakan Diri Dengan Berwisata dan Makan Enak di Kota Kupang – Rote

Berbagai destinasi wisata dan kuliner bisa ditemui di Kota Kupang dan Rote lho Kawula Moda!. Kalau kalian Ke Kota Kupang jangan lewatkan berwisata ke Goa Kristal ya. Di sana ada mata air yang sangat jernih dan masih asli, meski kalian harus menuruni batu-batu terjal tapi percayalah semua itu terbayar dengan segarnya air jernih di Goa Kristal. Jangan lupa juga mencicipi makanan enak khas Kota Kupang yaitu Ikan Kuah Asam di Warung Artis Kupang dan sea food segar di Kampung Solor.

Nah, kalau di Pulau Rote banyak sekali pantai-pantai bagus seperti Pantai Nembrala, Pantai Tiang Bendera dan pantai lainnya yang bisa memanjakan mata dengan menikmati senja. Keindahan alam batu termanu juga harus dikunjungi ya kawula moda karena di sana bisa menikmati pemandangan perbukitan dengan laut dalam satu frame, sangat indah. Sea foodnya juga enak kalau kata warga lokal ‘ikan sekali mati’.

Tak terasa perjalanan tim ekspedisi penghubung Indonesia selama lima hari di Kupang dan Rote harus berakhir. Kini konektivitas bukan lagi hanya asa dalam angan melainkan telah menjadi nyata. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah hadir di wilayah 3T (tertinggal,terdepan dan terluar) untuk merajut bangsa, menghubung nusantara dengan transportasi. Ini menjadi wujud Bhakti Nyata dari segenap insan transportasi bagi Negeri yang dapat kami ceritakan di Hari Perhubungan Nasional. Transportasi Kita, Penghubung Indonesia! (LKW/RDL)