Liputan Khusus

KEARIFAN LOKAL AKAN TERAKOMODASI DALAM PENGEMBANGAN BANDARA NGURAH RAI

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Selasa, 05 Januari 2010
Jumlah Dilihat: 7917 kali

Rencana pengembangan Bandara Ngurah Rai Bali dipastikan akan mengakomodasi kearifan lokal. Hal tersebut disampaikan Heru Legowo General Manager  PT Persero Angkasa Pura I Cabang Bandara Ngurah  Rai Bali ketika ditemui tim www.dephub.go.id pertengahan Desember 2009 lalu. lalu.  Menurut Heru main design untuk proyek pengembangan bandara saat ini telah sampai kepada tahap penyempurnaan. Baru saja pihaknya yang dipimpin langsung oleh Direktur Utama PT (Persero) Angkasa Pura I, Bambang Darwoto telah melaksanakan rapat dengan pemerintah daerah Kabupaten Badung, pemerintah provinsi Bali, Komisi III DPRD tingkat I, Ikatan Arsitek Indonesia di Bali, Majelis Utama Pekraman (Lembaga Adat Bali), dan segenap pihak terkait lainnya untuk meminta rekomendasi dari pemerintah setempat untuk mendapatkan izin prinsip dari Kementerian Perhubungan.

Heru Legowo, General Manager  PT Persero Angkasa Pura I Cabang Bandara Internasional Ngurah Rai Bali“Pada intinya, rapat tersebut memutuskan bahwa desain pengembangan bandara saat ini harus disempurnakan terlebih dahulu dengan memasukkan kearifan lokal di dalamnya,” ujar Heru. Meskipun Bandara Internasional Ngurah Rai yang baru nanti akan menjadi bandara yang sangat modern dan fungsional dengan berbagai fasilitas canggih di dalamnya, nuansa Bali akan tetap sangat terasa. Jadi saat pertama kali penumpang tiba di bandara, mereka akan langsung menyadari bahwa mereka sudah berada di Bali, imbuhnya.

Ir. Sri Unon Setyasih, Direktur Proyek Pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai BaliDitemui di tempat terpisah, Direktur Proyek Pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai, Ir. Sri Unon Setyasih mengamini hal tersebut.  “Pihak Pemda Kabupaten Badung meminta agar desain bandara disempurnakan dengan kearifan lokal untuk lebih menunjukkan lokasi keberadaan bandara tersebut, yaitu di Bali,” ujar Sri Unon yang ditemui di sela-sela rapat dengan Ikatan Arsitek Indonesia di Bali di kantornya.

“Selanjutnya, jika nuansa kearifan lokal sudah terintegrasi ke dalam desain bandara, kami akan melakukan presentasi kembali di depan mereka,” tambahnya. Sri Unon juga mengungkapkan bahwa sejak pernyataan komitmen untuk melakukan pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai dilaksanakan pada Bulan Juni silam, rencana pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai telah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan.

Pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai akan meliputi pembangunan terminal internasional baru seluas kurang lebih 120.000 m2 beserta fasilitas penunjangnya, renovasi terminal internasional yang telah ada saat ini menjadi terminal domestik, pembenahan apron seluas 56.000 m2, pembangunan gedung parkir seluas 50.000 m2, serta pengadaan automatic baggage handling system (sistem pengaturan bagasi otomatis). Selain itu, tentu saja juga akan dilaksanakan pembangunan fasilitas penunjang terminal seperti jalan lingkar, drop off dan pick up zone, fly over, jembatan penghubung, tol gate, dan halte kendaraan umum disertai dengan penataan lingkungan yang sesuai. Proyek pengembangan bandara ini akan dilaksanakan di atas lahan yang sepenuhnya milik PT. (Persero) Angkasa Pura I.
  
Pada kesempatan tersebut, Sri Unon juga mengonfirmasi mengenai anggaran yang sebelumnya disediakan oleh PT. (Persero) Angkasa Pura I untuk proyek tersebut sebesar Rp. 1,4 triliun meningkat menjadi Rp. 1,7 triliun. Proses prakualifikasi tender untuk pembangunan bandara ini akan dimulai pada Bulan Februari 2010. “Jika proses tendernya sudah selesai, kami memiliki optimist schedule, bandara ini akan selesai dalam waktu 30 bulan dihitung dari hari pertama pembangunan dimulai,” ujar Sri Unon.

Selama bertahun-tahun, Bandara Internasional Ngurah Rai telah menjadi akses utama ke pulau yang juga dikenal sebagai Pulau Dewata ini. Sebagai “gateway to paradise – pintu gerbang ke surga” yang sampai saat ini melayani lebih dari 9 (sembilan) juta penumpang per tahunnya, Disadari kondisi yang ada saat ini di Bandara Internasional Ngurah Rai tidaklah memadai untuk memberikan pelayanan yang baik terkait dengan perkembangan jumlah penumpang.

Oleh karena itu, pada 3 Juni 2009 silam, telah dicanangkan komitmen pengembangan Bandara tersebut oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal beserta segenap jajaran komisaris dan direksi PT. (Persero) Angkasa Pura I, jajaran manajemen Bandara Internasional Ngurah Rai dan segenap Muspida Provinsi Bali. Bandara Internasional Ngurah Rai yang saat ini mengalami peningkatan kenaikan penumpang sebesar 10-15% per tahunnya diproyeksikan pada tahun 2025 nanti akan mampu melayani 25 juta penumpang per tahun.      

 

Kesiapan menghadapi Angkutan Natal dan Tahun Baru

Sementara itu, ketika disinggung mengenai kesiapan Bandara Internasional Ngurah Rai dalam menghadapi lonjakan penumpang pada masa Angkutan Natal dan Tahun Baru kali ini, Heru Legowo menyatakan bahwa pihaknya telah siap.   

“Angkutan Natal dan Tahun Baru merupakan peristiwa yang memang harus dihadapi setiap tahunnya. Jadi kami memang selalu siap,” ujar Heru.

Heru Legowo menjelaskan pihaknya telah membentuk Tim Posko Monitoring Terpadu Angkutan Natal 2009 & Tahun Baru 2010 yang terdiri dari beberapa instansi yaitu PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Ngurah Rai, Kantor Administrator Bandara Ngurah Rai, TNI AU Lanud Ngurah Rai, Kepolisian (KP3U) serta Kantor Kesehatan Pelabuhan. Posko tersebut berlokasi di pick up zone terminal kedatangan domestik dan diselenggarakan mulai tanggal 22 Desember 2009 sampai 4 Januari 2010 dan beroperasi selama 24 jam nonstop setiap hari.

"Kami juga menempatkan banner hak penumpang apabila terjadi keterlambatan (KM 25 tahun 2008) serta banner tentang batas tarif atas harga tiket pesawat udara," imbuhnya.

Sementara itu, Alex Pudjianto, Manajer Personalia dan Umum Bandara Internasional Ngurah Rai menjelaskan bahwa terkait dengan Sumber Daya Manusia yang dikerahkan untuk pelaksanaan Posko Monitoring Terpadu Angkutan Natal 2009 & Tahun Baru 2010, jumlah keseluruhan dari personil posko ini adalah 149 orang, yang terdiri dari 18 orang dari Kantor Administrator Bandara Ngurah Rai, 30 orang dari KP3U, 6 orang dari Kantor Kesehatan Pelabuhan, 39 orang dari TNI AU dan yang paling banyak 56 orang dari PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Ngurah Rai.

Selanjutnya, terkait dengan jumlah penumpang, Heru Legowo menjelaskan bahwa dengan pertimbangan adanya penambahan extra flight, persentase antara penumpang domestik dan penumpang asing menjadi berimbang yaitu 50:50. Sementara itu, kenaikan jumlah penumpang untuk masa Angkutan Natal dan Tahun Baru ini, mencapai 10%.

Ada beberapa perusahaan airline yang menambah penerbangan mereka (extra flight) untuk menghadapi peningkatan Angkutan Natal & Tahun Baru kali ini antara lain Mandala Airlines 16 penerbangan, Japan Airlines 4 penerbangan, Transaero penerbangan sehingga totalnya ada 22 penerbangan tambahan.

Pada umumnya, Alex menambahkan, perkembangan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Berdasarkan data dapat dilihat bahwa pada H-1 s/d H2 kedatangan penumpang terlihat lebih tinggi, sedangkan untuk keberangkatan terlihat lebih tinggi pada H+3 (3 hari setelah Tahun Baru).

"Untuk sementara dapat disimpulkan bahwa pengunjung datang sebelum Natal dan kembali setelah Tahun Baru," pungkas Alex. (TIM)