Liputan Khusus

Konektivitas Transportasi di Kawasan Wisata Super Prioritas Mandalika

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Selasa, 13 Oktober 2020
Jumlah Dilihat: 13261 kali

JAKARTA – Pandemi Covid-19 masih berlangsung namun ikhtiar untuk terus membangun dan mengembangkan perekonomian nasional, memperluas sumber-sumber pendapatan dan devisa bagi negara, memperbanyak dan memperluas lapangan kerja dan perenomian rakyat terus dilakukan.

Pemerintah sejak tahun 2019 lalu telah menetapkan 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) super prioritas yang diharapkan dapat beroperasi segera dan menjadi obyek wisata untuk mendulang devisa. Lima destinasi wisata super prioritas yang ditetapkan tersebut salah satunya adalah Kawasan Wisata Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB).

KSPN Mandalika adalah sebuah kawasan pantai yang terbentang mulai dari Pantai Kuta, Pantai Seger, hingga Pantai Tanjung Aan, memiliki luas 1.034 hektar, dengan daya tarik berupa pantai sepanjang 14,6 km yang membentang dari barat hingga ujung timur dengan keunikan pasir putihnya menyerupai biji merica.

Berbagai kementerian dilibatkan dalam percepatan pengembangan KSPN Mandalika, antara lain Kementerian Parekraf, Kementerian PURR, Kementerian Perhubungan, Kementerian Desa & PDT, Kementerian Kesehatan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, dan Kemendikbud. Beberapa lembaga juga dilibatkan antara lain BNPB, Pemprov NTB, serta berbagai pihak lembaga swasta dan BUMN.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam satu kesempatan terpisah kepada media nasional mengungkapkan, dukungan Kementerian Perhubungan fokus pada peningkatan konektivitas. Dikatakan, untuk mendukung pariwisata tersebut, Kemenhub tidak hanya menggunakan APBN untuk kegiatan proyek-proyek pendukung, melainkan dikombinasi dengan kerjasama pemerintah dan badan usaha baik BUMN maupun swasta.

Potensi Besar Pendulang Devisa

Keindahan destinasi wisata super prioritas KSPN Mandalika di Lombok NTB telah kesohor sejak lama. Namun, dulu akses dan infrastruktur pendukung serta transportasi menuju kawasan wisata tersebut masih belum optimal/memadai.

Posisi KSPN Mandalika sangat strategis yaitu hanya berjarak 19 km atau 30 menit perjalanan mobil dari Bandar Udara (Bandara) Internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok dan juga dekat dengan Pelabuhan Penyeberangan Lembar yang menghubungkan Pelabuhan Padang Bai di Bali dan Lembar di Lombok. Ada juga Pelabuhan Benoa yang merupakan akses laut bagi wisatawan yang masuk melalui Pulau Bali. Terdapat juga akses khusus yaitu perjalanan laut melalui Pelabuhan Pemenang. Demikian juga dengan jalan darat, Kawasan Wisata Mandalika dapat ditempuh dengan kendaraan umum, taksi, maupun travel dari Kota Mataram yang hanya berjarak 46 km. Dilihat dari sisi jarak, seharusnya konektivitas transportasi bukan menjadi kendala.

Konektivitas Transportasi

Tahun 2016 lalu, Kementerian Perhubungan telah menyetujui dan merilis Rencana Induk Pelabuhan (RIP) untuk Gili Mas dan sekaligus dilakukan groundbreaking pembangunan Terminal Gilimas di tahun yang sama sebagai upaya percepatan pembangunan KSPN Mandalika.

Terminal Gilimas yang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) ini memiliki panjang 440 meter persegi dan mampu menampung hingga 1500 wisatawan. Terminal Gilimas memiliki 2 lantai dengan total luas lantai 1 seluas 12.300 meter persegi dan luas lantai 2 seluas 2000 meter persegi. Terminal Gilimas dilengkapi dengan zona area kedatangan, keberangkatan, kantor bersama kepelabuhan, toilet, ruang laktasi hingga ke depan dilengkapi dengan custom dan kantor imigrasi, kantor karantina, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Akhir semester 2 Tahun 2019 lalu, Terminal Gilimas telah dilakukan uji operasional. Selama masa uji operasional sudah ada kapal pesiar raksasa dengan lebih dari 300 meter bisa langsung yang masuk dan bersandar di Terminal Gilimas, yaitu tanggal 5 November 2019 Kapal Pesir Sun Princess dengan wisatawan sebanyak 1.988 orang dan 862 kru telah bersandar di Gilimas. Kapal Pesir Sun Princess berlayar dari Fremantle, Australia dan merupakan kapal perdana yang sandar di Dermaga Gili Mas. Para wisatawan yang ingin menikmati Kawasan Wisata Mandalika dan kawasan wisata lainnya di Lombok kini tidak perlu lagi menggunakan sekoci untuk mencapai daratan seperti yang selama ini dilakukan di Pelabuhan Lembar. Bahkan kunjungan kapal pesiar direct call dari luar negeri langsung ke Pulau Lombok makin memiliki prospek yang kian bagus. Selama akhir tahun 2019, di Dermaga dan Terminal Gilimas telah bersandar 6 kapal pesir dan pada tahun 2020 ini telah juga bersandar 16 kapal pesiar.

Pada Minggu (20/9), beberapa pekan lalu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi Gubernur Nusa Tenggara Barat Zulkieflimasnyah, Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto, Staf Khusus Menhub Bidang Komunikasi dan SDM Adita Irawati, dan Direktur Kepelabuhan Subagiyo telah melakukan pengecekan kesiapan operasional dan konektivitas transportasi yang mendukung pengembangan Kawasan Wisata Super Prioritas Mandalika.

Kunjungan dan pengecekan kesiapan operasional langsung dilakukan ke Dermaga dan Terminal Gilimas, Lombok, Nusa Tenggara Barat yang menjadi salah satu konektivitas transportasi wisatawan dari jalur laut menuju Kawasan Wisata Mandalika, dilanjutkan ke pelabuhan penyeberangan ASDP Lembar untuk konektivitas transportasi barang dan orang dari Padangbai (Bali) – Lembar (Lombok, serta ke Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid Lombok.

Dalam keterangan tertulisnya, Menhub Budi mengungkapkan, ia ingin memastikan dan memantau kesiapan obyek dan simpul-simpul konektivitas transportasi sebagai penunjang Kawasan Wisata Prioritas Mandalika telah siap menyambut wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang akan berwisata ke kawasan ini.

Dalam kondisi panemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, Menhub Budi juga ingin memastikan semua simpul konektivitas transportasi tersebut dapat berjalan dengan baik dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat untuk kesehatan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat bertransportasi.

Event Besar di Tahun 2021

KSPN Mandalika di Pantai Kuta Lombok memiliki event besar pada tahun 2021 mendatang. Di KSPN Mandalika bakal digunakan penyelenggaraan MotoGP 2021 dengan jumlah wisatawan domestik hingga wisatawan mancanegara diperkirakan mencapai 150.000 orang wisatawan.

Sirkuit yang berada di Kawasan Wisata Mandalika juga akan dimasukkan dalam daftar putaran balap mobil F1. Maka tidak heran jika semua stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan super prioritas ini juga diminta bersiaga untuk memenuhi semua kebutuhan dasar yang harus bisa diselesaikan pada tahun 2020, termasuk dukungan Kementerian Perhubungan dalam membangun dan mengembangkan konektivitas transportasi menuju kawasan tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB, Drs Lalu Bayu Windya M.Si mengungkapkan, pihaknya sedang menyusun skenario konektivitas transportasi massal bagi para wisatawan yang akan datang dalam event besar tersebut. “ Harapan kami semakin banyak lokasi wisata yang terhubung dan dapat dijangkau oleh angkutan massal sehingga wisatawan yang datang tidak mengalami kendala transportasi saat berkunjung ke beberapa destinasi wisata ,” ujarnya.

Konektivitas transportasi, lanjut Bayu Windya, menjadi penting agar KSPN Mandalika mudah dijangkau oleh para wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Konektivitas transportasi bukan hanya pada perjalanan orang tetapi juga pada pengangkutan dan pengiriman barang.

Sementara dalam keterangan tertulisnya, Dinas Pariwisata NTB, melalui Sekretaris Dinas, Drs Lalu Hasbuwadi,MPd mengungkapkan, pihaknya bekerjasama dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Propinsi NTB berupaya untuk meyakinkan calon wisatawan yang akan berkunjung ke Lombok bahwa kunjungannya aman dan semua masyarakat dan yang terlibat dalam industri pariwisata menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin.

Pihaknya, lanjut Hasbuwadi, akan berupaya untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan dan industry pariwisata NTB dengan menyusun protocol cleanliness, health and safety (CHS)yang diberikan dalam bentuk edukasi video dan handbook yang ditujukan kepada masyarakat domestik dan internasional. Pemerintah Provinsi NTB, lanjut Hasbuwadi juga telah mengeluarkan Perda No. 7 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Penyakit Menular.

Kendala Konektivitas

Meski saat ini masih ada beberapa kendala soal konektivitas transportasi di KSPN Mandalika, namun berbagai pihak telah melakukan sinergi dan upaya bersama mensukseskan upaya pemerintah membangun destinasi wisata bertaraf internasional penghasil devisa.

Semua pihak yang terhubung dalam penyelenggaraan konektivitas transportasi telah bersama-sama memetakan dan mengurai satu per satu persoalan dan kendala konektivitas, dari jalur perjalanan udara, jalur perjalanan laut, hingga jalur perjalanan darat. Kerja sinergi antar moda yang melibatkan PT Angkasa Pura 1 (Persero), Kantor Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan Lembar, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), PT Pelabuhan Indonesia III, BPTD Wilayah XII Bali dan NTB, PT Damri serta semua dinas di lingkungan Provinsi NTB dan daerah, serta stakeholder lainnya menjadi begitu sangat penting. Peran masyarakat dan intelektual dan pemerhati transportasi NTB juga menentukan suksesnya konektivitas transportasi yang menunjang masyhurnya KSPN Mandalika.

Riak-riak kecil konektivitas transportasi masih terjadi, misalnya masih adanya penolakan pengusaha transportasi lokal yang menolak kehadiran operasional bus Damri di Kawasan Mandalika atau belum adanya spoke dan hub di Provinsi NTB. Hub dan spoke adalah sebuah pola jaringan dimana ada pelabuhan atau terminal utama (hub) dan ada pelabuhan atau terminal pengumpan (spoke). Di pelabuhan atau terminal utama (i) ini, perpindahan orang dan barang akan didistribusikan ke moda transportasi yang lebih kecil pengumpan untuk diangkut ke pelabuhan atau terminal pengumpan (spoke).

Harapan Besar Presiden

Presiden RI, Joko Widodo telah menaruh harapan besar bahwa pembangunan KSPN Mandalika akan menjadi kawasan wisata berkelas internasional yang menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, dan memberikan kontribusi bagi bagi perekonomian nasional maupun lokal.

Lapangan kerja yang terserap diperkirakan mencapai 58 ribu serta dampaknya bagi perekonomian masyarakat Lombok dan Masyarakat NTB pada khususnya sangat besar dan meluas dengan munculnya simpul-simpul usaha/bisnis baru di sekitar kawasan wisata, baik yang melibatkan pebisnis-pebisnis besar maupun UMKM. (IS/AS/HG/HT)