Berita Umum

Menhub : Rawatlah Kebhinekaan Untuk Melawan Radikalisme

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Sabtu, 28 Oktober 2017
Jumlah Dilihat: 659 kali

PALEMBANG - Sekarang ini, Kebhineka-Tunggal-Ika-an Indonesia sedang diuji dalam menangani Radikalisme, Fundamentalisme dan Terrorisme. Untuk itu, rawatlah kebhinekaan untuk melawan radikalisme. Pesan tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam Orasi dan Kuliah Akbar bertema "Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme" di Griya Agung Gubernur Sumatera Selatan pada Sabtu (28/10).

Bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Menhub menyatakan kebhinekaan adalah pondasi utama dalam merajut persatuan nasional.

"Di balik kejayaan Nusantara ini kunci dan modal sosial kita adalah kebhinekaan, pondasi utama dalam merajut persatuan nasional. Sejarah menunjukkan justru karena kebhinekaan dan persatuan, kita menjadi kuat," seru Menhub Budi.

Lebih lanjut Menhub menjelaskan komitmen Presiden Joko Widodo dan Kabinet Kerja untuk “Kerja, Kerja dan Kerja", telah menawarkan paradigma dan cara kerja yang baru yang mengarah pada Indonesia-sentris.

"Program besar Indonesia-sentris kita tercemin kuat dalam “Membangun dari Pinggiran”, “Konektivitas Perhubungan” dan “Revolusi Mental”. Esensi utama dari program Indonesia-sentris ini adalah hadirnya negara terutama di generasi muda adalah sangat relevan dalam menjawab sumber utama ancaman kebangsaan kita, yaitu Radikalisme, Fundamentalisme dan Terrorisme," jelas Menhub.

Untuk itu, Menhub mengajak semua pihak menjaga keragaman dan menghindari konflik.

"Alhamdulillah Sumsel itu zero conflict. Tapi mempertahannya tidak mudah. Oleh karenanya, saya mengajak semua pihak di sini khususnya semua perguruan tinggi di Sumsel untuk menjaga keragaman dan menghindari konflik," ajak Menhub.

Menhub menambahkan, "Jika kita memiliki pemahaman agama dan kebangsaan yang baik, pasti radikalisme itu tidak terjadi."

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin optimis bahwa di Sumsel tidak akan terjadi kerusuhan antar etnis dan antar agama.

"Sumsel dikenal dengan zero conflict. Alhamdulillah dan Insya Allah tidak akan pernah terjadi kerusuhan antar etnis dan antar agama," ujar Alex.

Menurut Alex, Sumsel adalah satu dari 34 provinsi yang Insya Allah bisa menjadi contoh masyarakat yang guyub. Untuk itu, Alex menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Sumsel.

"Terima kasih kepada seluruh masyarakat Sumsel yang telah menjaga kondusivitas," tutup Alex.(CRA/TH/BS/BI)