Liputan Khusus

MENYULAP KAPAL JADI HOTEL DAN RUMAH SAKIT

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Selasa, 20 Juli 2010
Jumlah Dilihat: 7655 kali

(Ambon, 17/7/2010) Pemda Maluku telah menyiapkan Kapal Motor Bukit Siguntang dan Kapal Motor Tunas Wisesa III sebagai hotel terapung. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan membeludaknya peserta mapun wisatawan yang akan menyaksikan pagelaran akbar bertarap internasional, Sail Banda 2010 pada 1-4 Agustus 2010.

Kepala Dinas Perhubungan Propinsi Maluku Benyamin Gaspersz kepada www.dephub.go.id di kantornya akhir pekan lalu mengatakan, jumlah kamar yang tersedia di hotel-hotel yang tersebar di Ambon dan di Pulau Banda hanya sekitar 2.000 tempat tidur, sementara peserta dan wisatawan yang akan datang di perkirakan lebih dari 4.000 orang.

Hotel bintang lima hanya satu yaitu Aston Natsepa Ambon, hotel bintang empat ada Swiss Bell Hotel Ambon, sedangkan untuk bintang tiganya ada Amans Hotel, Amaris Hotel, Ambon Manise Hotel, Manise Hotel dan sisanya hotel-hotel bintang dua dan melati.

KM Bukit Siguntang bisa di sulap menjadi 200 tempat tidur untuk kelas khusus, sedangkan  untuk kelas wisata dan ekonomi disulap menjadi 600 tempat tidur. Bilamana ‘terpaksa’ bisa juga digunakan dek maupun upper dek yang bisa menampung 2000 orang

Sedangkan Kapal Tunas Wisesa yang berjenis roro dapat menampung lebih dari 360 orang.

Benny, panggilan akrab Benyamin menjelaskan, kapal-kapal tersebut akan merapat di sekitar Pelabuhan Ambon pada tanggal 1 Agustus, sehingga sebelum acara puncak Sail Banda 2010 yang akan diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Agustus 2010 kamar-kamar hotel terapung sudah dapat dimanfaatkan.

Berapa biaya untuk masing-masing kamar? Benny mengatakan tarif ditentukan oleh masing-masing pemilik kapal. Namun dalam pertemuan antara pantia Sail Banda,  Pemda Maluku, Pelni dan BUMN telah disepakti wisawatan yang menginap di hotel terapung ini hanya dikenakan biaya untuk makan saja.
Bukan hanya kapal yang disiapkan untuk menampung peserta dan wisatawan Sail Banda. Rumah-rumah pejabat, wisma milik Pemda maupun tempat-tempat Diklat.

Manager Humas PT Pelni (Persero) Edy Heryani mengatakan, selain menyiapkan KM Bukit Siguntang menjadi hotel terapung pada event Sail Banda 2010, PT Pelni juga memberikan dukungan lain berupa mempertahankan frekuensi keberangkatan kapal-kapal Pelni dari Ambon menuju Pulau Banda, yang dijadikan sebagai salah satu lokasi kegiatan pelayaran internasional itu baik sebelum maupun sesudah event Sail Banda 2010.

Semua kapal PT. Pelni yang melayari rute Ambon-Banda maupun Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD) disiapkan untuk diberangkatkan saat pelaksanaan Sail Banda. "Kami berharap dukungan PT Pelni ini dapat membantu suksesnya Sail banda 2010 selain membantu mendongkrak popularitas Maluku yang kaya potensi wisata bahari maupun sumber daya alam, sehingga terbuka peluang investasi di masa mendatang dan arus kunjungan wisatawan semakin meningkat," katanya.
 
 
 
Kapal Rumah Sakit
 
Bukan hanya KM Bukit Siguntang dan KM Tunas Wisesa III yang disulap dari kapal penumpang menjadi hotel terapung. TNI AL juga telah menyiapkan KRI dr Soeharso sebagai kapal rumah sakit.
Bersamaan dengan dilangsungkannya Sail Banda 2010, Kantor Menko Kesra, Departemen Kesehatan dan TNI AL menggelar acara bakti sosial dengan sandi Baksos Surya Baskara Jaya (SBJ) Sail Banda 2010. KRI dr Soeharso menyiapkan  88 personil kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat Maluku antara lain operasi bibir sumbing, katarak dan KB.

Bakti sosial KRI dr Soeharso antara lain di Namlea, Buru, Masohi, Banda dan Ambon pada  11 juli hingga 2 Agustus 2010 mendapat dukungan dari negara-negara sahabat. Amerika Serikat misalnya mengirimkan kapal UNNS Mercy T-AH 19 kapal rumah sakit besar yang dilengkapi dengan peralatan canggih dan lengkap, Singapura mengirim kapal angkatan lautnya RSS Endeavour dan Australia juga akan mengirim 2 unit kapal bantuan.

Bilamana di daerah tersebut KRI dr Soeharto dan kapal-kapal asing tidak bisa merapat, maka akan disiapkan kapal yang lebih kecil untuk menjemput calon pasien dan dibawanya ke atas kapal. Dan jika operasi di kapal tidak bisa dilakukan, akan di rujuk ke rumah sakit   dan tidak dikenakan biaya. (TIM)