(Jakarta, 22/7/10) Garuda Indonesia dan Lion Air kembali mengajukan kerja sama pendidikan pelatihan calon penerbang dengan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug pada 2010 ini. Pembahasan intensif tengah dilakukan kedua maskapai bersama Badan Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Kementerian Perhubungan selaku penanggungjawab operasional STPI Curug.
Kepala Badan Diklat Badan Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Kementerian Perhubungan Dedi Darmawan mengatakan, baik pihak Garuda Indonesia maupun Lion Air telah mengajukan surat permohonan kerja sama tersebut. ”Sekarang masih dilakukan pembahasan untuk menetukan pola kerja samanya. Apakah mau pakai sistem ’ijon’ atau mau seperti tahun lalu, merekrut lulusan yang sudah jadi. Mungkin maskapai masih mempertimbangkan dengan dasar keuangan yang dimiliki,” paparnya, Kamis (22/7).
Dijelaskan, jika menggunakan sistem ”ijon” atau program beasiswa, maskapai berarti akan mendanai seluruh biaya pendidikan siswa calon penerbang sejak masih berada di tingkat awal hingga siswa meraih kelulusan. ”Jadi, nanti setelah lulus dia langsung ditarik maskapai yang membiayainya itu,” imbuhnya. Namun, jika tidak, ”Seperti tahun lalu, maskapai harus mengganti biaya pendidikan yang sudah dikeluarkan selama siswa yang dipilihnya mengikuti pendidikan di STPI. Nilainya per siswa sekitar USD 22 ribu.”
Menurut Dedi, jika menerapkan program beasiswa, maskapai akan lebih diuntungkan karena bisa memilih dengan bebas sejak dini calon penerbang mana yang akan direkrutnya. ”Sementara jika memilih untuk menunggu, ya, harus rebutan dengan maskapai lain. Tergantung persediaan yang ada saat itu. Di satu sisi, kita juga tidak bisa menyediakan lulusan sesuai kebutuhan saat ini karena keterbatasan kapasitas produksi,” ujarnya.
Manajemen Garuda Indonesia dalam pernyataan resminya beberapa waktu lalu mengumumkan, seiring dengan upaya penambahan armada, pihaknya mengalokasikan perekrutan sedikitnya 180 pilot baru setiap tahun mulai 2010 sampai 2014. Hal yang sama juga dilakukan Lion Air, yang terbilang sebagai maskapai yang paling banyak mendatangkan armada baru dalam industri penerbangan nasional saat ini. Baik Lion maupun anak perusahaannya, Wings Air, membutuhkan sedikitnya 120 pilot setiap tahun.
EVP Human Capital & Corporate Services Garuda Indonesia Achirina menjelaskan, dalam rencana pengembangan bisnis sampai 2014, jumlah pesawat yang dioperasikan Garuda akan berjumlah 116 pesawat. Sementara saat ini jumlah pesawat Garuda 67 unit, yang dioperasikan oleh 670 set pilot dan kopilot. Asal tahu saja, dalam standar pengoperasian pesawat di dunia internasional dibutuhkan 3 set pilot dan kopilot untuk mengoperasikan satu pesawat.
"Tahun ini saja kami mendatangkan 23 pesawat baru. Jadi, untuk mengantisipasi terus bertambahnya armada sampai 2014, kami bekerja sama dengan tiga sekolah penerbangan, di mana kami bisa merekrut 180 pilot per tahun dari sekolah itu," kata Achirina.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti dalam sebuah upacara wisuda sekolah penerbangan swasta baru-baru ini menyatakan, Indonesia membutuhkan pilot baru sebanyak 400-500 orang per tahun untuk memenuhi kebutuhan maskapai nasional. Menurutnya, kebutuhan itu mengacu pertumbuhan penerbangan nasional sebesar 10 persen per tahun. "Kebutuhan itu mengacu juga asumsi penambahan pesawat maskapai nasional," katanya.
Sementara sampai saat ini, dari total 7 sekolah penerbang di Indonesia baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, hanya mampu memenuhi kebutuhan 100-120 penerbang per tahun. Terkait itu, menurut Herry, Kementerian masih mengeizinkan penggunaan pilot asing dalam dunia penerbangan nasional untuk mencegah krisis. "Tetapi keberadaannnya akan dimonitor ketat dan kita batasi juga jumlahnya," pungkas dia. (DIP)








(Jakarta, 3/2/2012) Kantor perwakilan Indonesia untuk ICAO secara resmi telah dibuka kembali (reopening). Peresmian Kantor Kepentingan Indonesia di ICAO dilakukan Wakil Menteri Perhubungan RI, Bambang Susantono dan Presiden ICAO (International Civil Aviation Organization), Roberto Kobeh Gonzalez, pada Kamis (2/2) siang sekitar pukul 11.00 waktu Montreal, Kanada, disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Kanada, Dienne H. Moehario.
(Bandar Lampung, 1/2/2012) Sekjen Kementerian Perhubungan M. Iksan Tatang didampingi Dirjen Perkeretaapian Tunjung Inderawan meresmikan Kereta rel diesel Indonesia (KRDI) Way Umpu senilai Rp33 miliar produksi PT INKA untuk dioperasikan di lintas Tanjung Karang-Blambangan Umpu, Lampung sepanjang 162 km.
(Lampung,1/2/12) Peningkatan pengembangan perkeretapian di Lampung sudah sangat dibutuhkan. Ada beberapa alasan yang digelontorkan agar jalur rel memiliki peran penting dalam sektor transportasi. Tingkat pelayanan angkutan jalan raya yang terus menurun karena jumlah kendaraan yang sangat tinggi tidak diimbangi dengan kapasitas jalan menjadi salah satu alasan perlunya pengembangan kereta api.