(Jakarta 8/2/2010) Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan menegaskan sikap pilot Batavia Air nomor penerbangan 7P-343 tujuan Jakarta-Surabaya-Ambon,yang memutuskan terbang kembali (return to base/RTB) ke bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Banten, Senin (8/2) pagi perlu diapresiasi. Pilot pesawat Batavia Air itu sendiri memutuskan RTB, setelah dirinya mengatahui adanya gangguan pada tekanan udara (system pressurized) di dalam kabin yang sempat membuat kantung udara keluar dari tempatnya.
Menurut Bambang, apa yang dilakukan sang pilot merupakan prosedur keselamatan penerbangan yang harus selalu dijaga oleh para penerbang. ”Kalau dilihat dari segi bisnis, mungkin itu merugikan perusahaan. Tapi kalau dari sisi keselamatan, itu memang harus dilakukan. Pilot sudah melakukan hal yang baik. Dia menjalankan prosedur yang benar. Masalah pada teknologi itu pasti ada, yaitu kondisi di mana muncul kendala-kendala teknis seperti itu. Dan, ini adalah hal yang biasa,” ujarnya.
Menurut informasi yang dirilis pengelola Bandara Soekarno-Hatta, pesawat yang mengalami insiden tersebut adalah pesawat Batavia Air jenis Boeing 737-200 yang bernomor registrasi PK-YVP. Pesawat tersebut melakukan take off tepat pukul 06.19 dengan tujuan penerbangan Surabaya dan berlanjut ke Ambon.
”Tetapi, karena alasan teknis, pesawat yang membawa 113 penumpang berikut kru itu melakukan RTB. Pesawat yang dipiloti Capt. Setyoadi Budi itu landing dengan aman selamat pukul 06.49 WIB,” jelas Karpul, Duty Manager PT Angkasa Pura II, Bandara Soekarno-Hatta, saat dihubungi.
Karpul menambahkan, usai melakukan pendaratan karena alasan darurat tersebut, para penumpang langsung dialihkan oleh pihak manajemen Batavia Air ke pesawat pengganti berjenis sama, yaitu Boeing 737-200 beregistrasi PK-YVO. ”Tidak ada penumpang yang membatalkan penerbangan. Semua langsung diterbangkan kembali dengan pesawat pengganti itu, dan take off pukul 08.45 WIB,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Perusahaan Batavia Air Edy Haryanto menambahkan, permasalahan teknis yang dialami pesawatnya adalah kerusakan yang terjadi pada sistem tekanan udara pada kabin. Kondisi tersebut sempat membuat kantung-kantung oksigen di dalam pesawat keluar dari tempatnya.
”Pilot memutuskan RTB karena alasan keselamatan penerbangan. Sesuai prosedur, RTB memang harus dilakukan pada kondisi-kondisi darurat semacam itu. Alhamdulillah, pendaratan dapat dilakukan sempurna, dan kami langsung mengganti pesawat sehingga penumpang tidak perlu menunggu pesawat selesai diperbaiki,” jelas Edy.
Namun, Edy mengklarifikasi keterangan yang disampaikan Duty Manager PT Angkasa Pura II, Bandara Soekarno-Hatta, Karpul, tentang jenis pesasat. Menurut Edy, jenis pesawat yang mengalami insiden maupun pesawat pengganti bukanlah Boeing 737-200. ”Tetapi Boeing 737 series. Itu artinya seri 300 atau 400. Untuk rute penerbangan Jakarta, kami hampir tidak pernah menggunakan yang seri 200, karena base-nya di Surabaya,” paparnya.
Saat ini, Edy menambahkan, pihaknya hanya memiliki 2 unit pesawat berjenis Boeing 737-200 tersebut. Keduanya dialokasikan untuk melani rute penerbangan di Luwuk, Sulawesi Tengah, dan Waingapu, Nusa Tenggara Timur, yang berlandasan pacu pendek. (DIP)








(Jakarta, 3/2/2012) Kantor perwakilan Indonesia untuk ICAO secara resmi telah dibuka kembali (reopening). Peresmian Kantor Kepentingan Indonesia di ICAO dilakukan Wakil Menteri Perhubungan RI, Bambang Susantono dan Presiden ICAO (International Civil Aviation Organization), Roberto Kobeh Gonzalez, pada Kamis (2/2) siang sekitar pukul 11.00 waktu Montreal, Kanada, disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Kanada, Dienne H. Moehario.
(Bandar Lampung, 1/2/2012) Sekjen Kementerian Perhubungan M. Iksan Tatang didampingi Dirjen Perkeretaapian Tunjung Inderawan meresmikan Kereta rel diesel Indonesia (KRDI) Way Umpu senilai Rp33 miliar produksi PT INKA untuk dioperasikan di lintas Tanjung Karang-Blambangan Umpu, Lampung sepanjang 162 km.
(Lampung,1/2/12) Peningkatan pengembangan perkeretapian di Lampung sudah sangat dibutuhkan. Ada beberapa alasan yang digelontorkan agar jalur rel memiliki peran penting dalam sektor transportasi. Tingkat pelayanan angkutan jalan raya yang terus menurun karena jumlah kendaraan yang sangat tinggi tidak diimbangi dengan kapasitas jalan menjadi salah satu alasan perlunya pengembangan kereta api.