Berita  Direktorat Jenderal Perhubungan Udara  ATS SINGLE PROVIDER AKAN DIBENTUK DALAM WAKTU DEKAT Print
ATS SINGLE PROVIDER AKAN DIBENTUK DALAM WAKTU DEKAT

(Jakarta, 14/12/09) Pemerintah memastikan Air Traffic Services (ATS) Single Provider atau badan pengelola navigasi penerbangan tunggal akan terbentuk dalam waktu dekat. Saat ini sejumlah departemen dan kementrian terkait, di antara Departemen Keuangan dan kementrian Perhubungan serta Kementrian Negara BUMN, tengah melakukan pembahasan intensif untuk menentukan bentuk struktur organisasi tersebut, apakah Badan Layanan Umum (BLU) atau Perusahaan Umum (Perum).


”Targetnya tahun ini bisa terbentuk ATS Single Provider ini, jadi tidak akan lama lagi. Arahnya sudah mengerucut. Hari ini pejabat Eselon I di seluruh departemen terkait akan membahas penentuan bentuk organisasinya,” jelas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan Herry Bakti S Gumay, dalam diskusi interaktif menyikapi pembentukan ATS Single Provider yang digelar Forum Wartawan Perhubungan di Jakarta, Senin (14/12).


Herry Bakti mengungkapkan, Undang-Undang No.1/2009 tentang Penerbangan tidak menyebutkan secara spesifik bentuk organisasi badan layanan tersebut. UU tersebut, menurutnya, hanya mengamanatkan pembentukan lembaga pengelola navigasi udara tunggal yang berorientasi pada peningkatan pelayanan tanpa menargetkan pendapatan dari sisi finansial.

 
”Kementrian Perhubungan tidak mempersoalkan apakah nantinya badan akan berbentuk BLU atau Perum, karena persoalan utamanya bukan itu. Mau BLU atau Perum tidak jadi soal, sama-sama harus mengedepankan peningkatan mutu pelayanan untuk memperkuat faktor keselamatan penerbangan, bukan pada pencarian profit. Tetapi, bukan berarti dilarang dilarang untuk mendapatkan profit. Kalau ada, ya boleh-boleh saja untuk cost recovery,” paparnya.

 
Herry menambahkan, selain diamanatkan oleh undang-undang, pembentukan lembaga tunggal pengelola navigasi udara ini juga merupakan rekomendasi dari hasil temuan audit USOAP ICAO 2007. ICAO menilai, pola pengelolaan navigasi udara di Indonesia yang selama ini melibatkan oleh tiga lembaga (Departemen Perhubungan, PT Angkasa Pura dan Unit Pelaksana Teknis (UPT), harus diubah agar lebih independen sebagiamana yang diterapkan negara-negara lain.

 
Sebagaimana diketahui, perdebatan mengenai pembentukan lembaga navigasi penerbangan ini menghabiskan waktu sekitar dua tahun, melibatkan antara lain Dephub, Kementerian Negara BUMN, Depkumham, Sekneg dan Depkeu.

 
”Referensinya UU nomor 1/2009 bahwa harus dibentuk lembaga. Tapi tidak disebutkan apa bentuknya dan debat ini berlangsung sejak dua tahun lalu, akhirnya disepakati dibentuk Perum khusus, yang dalam PP nya mengakomodasi UU 1/2009. Tetapi sekarang sudah clear, karena perdebatan itu mucul karena kekurangfahaman saja. Sekarang, semua sudah senada. Apapun bentuknya, tidak akan masalah,” ujar Herry Bakti.

 
Untuk permodalan, lanjut dia, Kementerian Negara BUMN juga sudah menginstruksikan AP I dan II untuk mengeluarkan aset bisnis navigasinya dari aset perusahaan mulai tahun depan, sehingga aset tersebut bisa digunakan sebagai aset awal perusahaan.


"Permodalan dan aset akan diatur di PP, karena pemerintah memiliki saham di AP I dan II, jadi sama saja pemerintah mengeluarkan modal dari kantong kanan-kiri pemerintah," jelasnya.


Herry menambahkan, hal lain yang akan diatur dalam PP yaitu mengenai tarif navigasi penerbangan. Karena dengan menggabungkan AP I, II dan UPT Kenavigasian, struktur tarif navigasi yang biasa dikenakan perusahaan dan UPT tersebut akan berubah. (DIP)

Berita Terkait
Berita Terkini
DIBUTUHKAN RP. 117 TRILIUN KEMBANGKAN PELABUHAN DI INDONESIA

(Jakarta, 8/2/2012) Dalam rangka penguatan konektivitas nasional yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di 6 koridor, dibutuhkan 117 triliun rupiah untuk mengembangkan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.

Baca Selengkapnya
KAPAL PERINTIS DAN PENYEBERANGAN TERUS DITAMBAH

JAYAPURA (07/02/2012) Pemerintah secara bertahap akan menambah kapal-kapal perintis maupun kapal ro-ro khususnya di kawasan timur Indonesia. Penambahan kapal harus segera dilakukan untuk mempercepat Round Trip dalam satu lintasan.

Baca Selengkapnya
PERISTIWA PENANGKAPAN PILOT DI SURABAYA, TINDAK LANJUT KERJASAMA KEMENHUB DAN BNN

(Jakarta, 6/2/2012) Peristiwa ditangkapnya pilot Lion Air di Surabaya oleh BNN beberapa waktu lalu merupakan tindak lanjut dari kerjasama Kemenhub dan BNN dalam rangka menanggulangi penyalahgunaan dan pencegahan penyebaran narkoba di sektor transportasi.

Baca Selengkapnya
2012, ANGGARAN OPERASIONAL PENYEBERANGAN PERINTIS DIALOKASIKAN 140 M

(Manokwari, 05/02/2012) Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan pada tahun 2012 ini mengalokasikan subsidi operasional untuk kapal penyebrangan sekitar Rp 140 miliar. Sementara itu untuk pembangunan 5 buah kapal disiapkan anggaran sebesar Rp 150 miliar.

 

Baca Selengkapnya
KEMENHUB SERAHKAN KMP NAPAN WAINAMI DAN KM SABUK NUSANTARA 32 DI MANOKWARI

(Manokwari, 06/02/2012)  Menteri Perhubungan EE Mangindaan meresmikan pengoperasian KMP Napan Wainami dan KM Sabuk Nusantara 32 di Pelabuhan Manokwari. KM Napan Wainami merupakan kapal penyebrangan yang akan melayani pelabuhan Manokwari-Wasior dan berakhir di Nabire. Waktu tempuh Manokwari-Wasior sekitar 11-12 jam sedangkan waktu tempuh Wasior-Nabire 13-14 jam dengan kecepatan rata-rata 11 knot/jam

Baca Selengkapnya
Liputan Khusus
Transportation News Bite
MATRIK MINITORING PEMBERITAAN SEKTOR TRANSPORTASI TGL 31 JANUARI 2011

Matrik pemberitaan sektor transportasi yang dirilis dari media elektronik dan cetak pada 31 Januari 2011

MATRIK MONITORING PEMBERITAAN SEKTOR TRANSPORTASI TGL 27 JANUARI 2011

Matrik pemberitaan sektor transportasi yang dirilis dari media elektronik dan cetak pada 27 Januari 2011

MATRIK MONITORING PEMBERITAAN SEKTOR TRANSPORTASI TGL 26 JANUARI 2011

Matrik pemberitaan sektor transportasi yang dirilis dari media elektronik dan cetak pada 26 Januari 2011

MATRIK MONITORING PEMBERITAAN SEKTOR TRANSPORTASI TGL 25 JANUARI 2011

Matrik pemberitaan sektor transportasi yang dirilis dari media elektronik dan cetak pada 25 Januari 2011

MATRIK MONITORING PEMBERITAAN SEKTOR TRANSPORTASI TGL 24 JANUARI 2011

Matrik pemberitaan sektor transportasi yang dirilis dari media elektronik dan cetak pada 24 Januari 2011

Kolom Redaksi