Sebuah pertanyaan dan harapan yang menjadi menarik untuk disimak, dikaji, dan dikembangkan. Apa sebenarnya budaya organisasi itu? Apakah kita telah memiliki budaya organisasi? Mulai kapan kita memilikinya? Siapa yang menanamkan? Siapa yang menumbuhkan dan mengembangkan?
Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, pada tulisan berikut akan dipaparkan satu persatu meskipun belum menjawab semua permasalahan yang diutarakan. Sesungguhnya setiap organisasi bertanggung jawab untuk mengembangkan suatu perilaku organisasi yang mencerminkan kejujuran dan etika yang dikomunikasikan secara tertulis dan dapat dijadikan pegangan oleh seluruh pegawai. Budaya tersebut harus memiliki akar dan memiliki nilai-nilai luhur yang menjadi dasar bagi etika pengelolaan suatu organisasi yang mencakup profesionalisme, kerja sama, keserasian, keselarasan, keseimbangan, dan kesejahteraan. Implementasi nilai-nilai yang terdapat dalam budaya kerja tersebut dalam suatu organisasi sangat erat hubungannya dengan kemauan manajemen untuk membangun etika perilaku dan budaya organisasi. Sejatinya, sejak rekrutmen pegawai, budaya organisasi sudah (seharusnya) mulai diterapkan.
Nevizond Chatab menyimpulkan budaya organisasi dari beberapa batasan yang disampaikan oleh para ahli, yaitu merupakan pengendali sosial dan pengatur jalannya organisasi atas dasar nilai dan keyakinan yang dianut bersama sehingga menjadi norma kerja kelompok dan secara operasional disebut budaya kerja karena merupakan pedoman dan arah perilaku kerja karyawan, sedangkan Pithi Sithi Amnuai menyebutkan, budaya organisasi adalah seperangkat asumsi dasar dan keyakinan yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, kemudian dikembangkan dan diwariskan guna mengatasi masalah-masalah adaptasi eksternal dan masalah integrasi internal.
Budaya organisasi merupakan sistem penyebaran kepercayaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu organisasi dan mengarahkan perilaku anggota-anggotanya. Budaya organisasi dapat menjadi instrumen kompetitif yang utama, yaitu apabila budaya organisasi mendukung strategi organisasi dan apabila budaya organisasi dapat menjawab atau mengatasi tantangan lingkungan dengan cepat dan tepat.
Terdapat beberapa fungsi budaya organisasi, namun fungsi pokoknya sebagaimana disebutkan oleh Moh. Pabundu Tika adalah sebagai batas pembeda terhadap lingkungan, organisasi, maupun kelompok lain, dan sebagai perekat bagi karyawan dalam organisasi. Sebagai batas pembeda ini karena adanya identitas tertentu yang dimiliki oleh suatu organisasi yang tidak dimiliki oleh organisasi atau kelompok lain, sedangkan sebagai perekat terhadap lingkungan hal ini merupakan bagian dari komitmen kolektif dari para karyawan. Mereka merasa bangga sebagai pegawai instansi tertentu.
Hampir semua organisasi memiliki budaya yang diterapkan kepada anggota organisasinya agar organisasi tersebut dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh pimpinannya.
Budaya organisasi kuat sebagaimana disebutkan oleh SP. Robbins adalah budaya di mana nilai-nilai inti organisasi dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas oleh anggota organisasi. Budaya organisasi yang kuat dibangun atas dasar kebersamaan dan kekuatan pimpinan organisasi. Permasalahannya adalah, seberapa kuatkah budaya organisasi yang kita miliki? Untuk melihat apakah kita sudah memiliki budaya organisasi, kita perlu merunut sejarah perkembangan Departemen Perhubungan secara menyeluruh.
BUDAYA ORGANISASI DEPHUB
Departemen Perhubungan dibentuk tidak lama setelah Negara Republik Indonesia diproklamasikan. Selaras dengan itu pula, sudah mulai diterapkan budaya-budaya untuk menggiatkan roda organisasi. Namun, penerapan budaya organisasi baru sebatas survival dengan fokus utama organisasi dapat berjalan. Budaya organisasi baru digali dan mulai dikembangkan ketika Menteri Perhubungan dijabat oleh Ir. Azwar Anas, ia menyatukan Kantor Perwakilan Perhubungan (kaperwahub) karena kaperwahub yang dimiliki oleh tiap direktorat dinilai tidak efektif. Selanjutnya, guna memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan antarsesama pegawai di seluruh jajaran perhubungan, mulai dilakukan penyeragaman baik di kantor pusat, kanwil perhubungan (sekarang dinas perhubungan), dan badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang perhubungan.
BUMN bidang transportasi darat, laut, dan udara. Seluruh pegawai Departemen Perhubungan dan BUMN-nya berpakaian sama seperti seragam yang kita pakai saat ini.
Pelestarian terhadap budaya organisasi yang telah terpelihara dengan baik terus dipertahankan dan dikembangkan. Departemen Perhubungan memiliki sekolah dan fasilitas pendidikan dan pelatihan, baik di bidang transportasi darat, laut, maupun udara. Hampir tiap sekolah memiliki taruna yang terlatih bermain drumband untuk pertunjukan ataupun berbagai kegiatan upacara dan seremonial yang mampu membangkitkan khidmat peserta upacara, membangkitkan kebanggaan, dan menumbuhkan kebersamaan. Para taruna salalu dilibatkan dan diikutsertakan pada hari-hari bersejarah nasional, misalnya upacara memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus, Hari Perhubungan Nasional tanggal 17 September, dan upacara hari-hari bersejarah lainnya. Selain itu, diciptakan pula lagu Hymne Perhubungan yang menggugah kesadaran insan perhubungan akan kebesaran Sang Pencipta terhadap alam semesta sebagai ruang gerak sarana transportasi, baik darat, laut, dan udara yang dinyanyikan saat pelantikan pejabat di lingkungan Departemen Perhubungan. Diciptakan pula lagu Mars Perhubungan yang bertujuan untuk membangkitkan rasa bangga sebagai pegawai di jajaran perhubungan yang dikumandangkan tiap upacara apel bendera pada hari besar nasional, dan pelantikan pejabat di lingkungan Departemen Perhubungan.
Untuk membangkitkan tekad dan semangat pengabdian serta sikap batin yang paling mendasar yang harus dimiliki oleh segenap pegawai yang kompeten dengan penyediaan jasa perhubungan, siapapun dan di
manapun berada, dibentuk tim untuk menggali falsafah kerja dimaksud dan menghasilkan 5 Citra Manusia Perhubungan. Lima Citra Manusia Perhubungan terdiri atas Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tanggap terhadap kebutuhan masyarakatakan pelayanan jasa yang tertib, teratur, tepat waktu, bersih dan nyaman, Tangguh menghadapi tantangan, Terampil dan berperilaku gesit, ramah, sopan, seRta lugas, dan Tanggung Jawab terhadap keselamatan dan keamanan jasa perhubungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Departemen Perhubungan menggalakkan manajemen alam terbuka (outbond) diutamakan bagi pegawai yang menduduki jabatan dan pegawai berminat mengikutinya. Dengan outbond diharapkan pejabat dan pegawai dapat memadukan ilmu manajerial yang diterima dari lembaga pendidikan sesuai disiplin ilmunya dengan manajeman alam terbuka. Untuk meningkatkan disiplin, diadakan pula diklat wajib bagi pejabat dan pegawai di lingkungan Departemen Perhubungan. Demikian pula untuk lebih meningkatkan rasa kebersamaan dan mencintai korps tempatnya bekerja, dikembangkan pula pendidikan dan pelatihan jiwa korsa untuk semua pegawai pada semua tingkatan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kalau budaya organisasi sudah dimiliki, berbagai diklat sudah diikuti, kenapa masih sulit berkoordinasi untuk kepentingan organisasi? Kejadian sebagaimana dialami oleh penanya sebagaimana disebutkan di atas yang kadang dialami oleh pegawai lainnya, saat ini seharusnya tidak perlu terjadi lagi. Pembinaan terus-menerus oleh pimpinan organisasi memang mutlak diperlukan untuk membuat budaya organisasi kita makin kuat, namun kuat ke arah yang benar sebagaimana diamanahkan.
Oleh: Syamsu Alhadi
(Analis Kepegawaian Muda)



Memanusiakan manusia. Ucapan itu disampaikan oleh Menteri Perhubungan EE Mangindaan, saat meresmikan KM Sabuk Nusantara 29 dan menyerahkan kapal tersebut kepada Pemerintah Daerah Propinsi Papua pada 7 Februari 2012 lalu.