Dibalik kebutuhan transportasi yang terus berkembang, sumber daya manusia (SDM) jadi hal yang tidak kalah penting. Perkembangan sektor transportasi tidak hanya membutuhkan orang yang memahami teknologi dan operasional, tetapi juga tenaga profesional yang mampu bekerja sesuai bidang, memiliki kompetensi, serta siap menghadapi dinamika dunia kerja.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu ruang yang ditawarkan melalui pendidikan sekolah kedinasan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Melalui Seleksi Penerimaan Calon Taruna (SIPENCATAR), putra-putri Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan kedinasan untuk mempersiapkan diri menuju berbagai pilihan karier di sektor transportasi.

Plt. Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan, Arif Kurniawan menjelaskan, pendidikan yang diselenggarakan BPSDM memiliki jalur pembentukan melalui pola pembibitan dan jalur mandiri. Kedua jalur tersebut memiliki orientasi yang berbeda terhadap perjalanan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Pada pola pembibitan, lulusan bakal diangkat menjadi ASN di bawah Pusat atau Pemda. Selain itu, tahap pertamanya menggunakan SKD BKN dengan kuota yang disetujui MenPAN-RB. Sementara pada jalur mandiri, lulusan bakal berkarir di sektor industri, BUMN, atau swasta transportasi. Tahap awalnya menggunakan Tes Potensi Akademik (TPA) internal sekolah,” jelas Arif dalam Podcast HubTalks episode 25.

Pola Pembibitan Pusat diarahkan untuk menyiapkan lulusan taruna taruni berkarir di lingkungan Kementerian Perhubungan. Sementara itu, Pola Pembibitan Daerah menyiapkan lulusan untuk menjadi pegawai atau ASN pemerintah daerah, termasuk di lingkungan Dinas Perhubungan tingkat provinsi, kabupaten, maupun kota.

Keterhubungan dengan dunia kerja juga dibangun selama proses pendidikan. BPSDM menerapkan prinsip linkand match dengan dunia usaha dan industri melalui pembaruan kurikulum, keterlibatan praktisi, serta pengalaman yang mendekatkan peserta didik dengan kondisi pekerjaan sebenarnya. Dosen dan instruktur juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti magang di perusahaan transportasi nasional maupun internasional.

Bagi taruna dan taruni, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses mengenal dunia profesional sebelum benar-benar masuk ke lingkungan kerja. Pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan dapat dipertemukan dengan situasi dan kebutuhan yang ada di lapangan.

“Dalam memenuhi standar pendidikan, tenaga pendidik tidak hanya berasal dari internal, melainkan juga menghadirkan dosen dan praktisi industri. Para dosen dan instruktur juga dikirim untuk magang di perusahaan transportasi nasional maupun internasional guna memperbarui pemahaman kompetensi situasi kerja nyata,” ujar Arif.

Peluang untuk mendapatkan pengalaman kerja juga dapat diperluas melalui kerjasama internasional. BPSDM mencatat sejumlah kerjasama, diantaranya PTDI-STTD bekerja sama dengan Japan Railway Technical Service, STIP dengan Jiangsu University, dan PPI Curug dengan Kuala Lumpur International Airport.

“Taruna bahkan dapat mengikuti magang internasional di luar negeri sebelum lulus serta memperoleh sertifikat kompetensi pendamping ijazah,” ujar Arif.

Pengalaman internasional tersebut menjadi salah satu cara memperluas wawasan taruna terhadap lingkungan kerja yang memiliki standar dan karakter berbeda. Bagi mereka yang memiliki minat membangun karier di luar negeri, pengalaman tersebut juga dapat menjadi bagian dari proses mengenal peluang yang tersedia di sektor transportasi global.

Bahkan, BPSDM memberikan gambaran mengenai proses seleksi internal untuk kesempatan tertentu. Salah satunya melalui kualifikasi bahasa Jepang N5 bagi taruna yang memiliki peluang karier di Jepang. Dengan demikian, kemampuan yang dibangun selama pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kompetensi utama sesuai program studi, tetapi juga dapat diperkuat dengan kemampuan pendukung yang dibutuhkan untuk memasuki lingkungan kerja tertentu.

Pada akhirnya, pilihan karier lulusan akan berkaitan dengan jalur pendidikan yang ditempuh dan bidang yang dikuasai. Pola pembibitan memberikan arah pengabdian melalui jalur ASN pusat maupun daerah, sedangkan Jalur Mandiri memberikan ruang untuk berkarier di industri, BUMN, dan perusahaan swasta transportasi.

Bekal yang diberikan pun tidak hanya berupa kompetensi teknis. BPSDM juga menempatkan integritas, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, adaptabilitas, dan budaya keselamatan sebagai bagian dari pembentukan SDM transportasi.

“Prospek karir Jalur Mandiri sangat bagus dan menjanjikan karena proses pendidikan Pola Pembibitan dan Jalur Mandiri memiliki standar kualitas yang sama. Secara pendidikan, tidak hanya mencetak kompetensi saja tetapi kami juga menanamkan karakter, integritas, dan kedisiplinan,” ucap Arif.

Bagi Arif, kemampuan tersebut menjadi penting karena lulusan nantinya tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa tanggung jawab sebagai bagian dari sektor transportasi. Terlebih bagi mereka yang berkarier di tingkat internasional, kompetensi dan kedisiplinan menjadi bagian dari profesionalisme sekaligus representasi Indonesia.

“Mereka juga harus adaptif, mampu berkomunikasi, dan bekerja sama. Khusus di sektor internasional, kedisiplinan, dan kompetensi menjadikan lulusan Indonesia sebagai garda terdepan yang mewakili nama bangsa di dunia internasional,” pungkas Arif.

SIPENCATAR bukan hanya menjadi pintu masuk menuju pendidikan kedinasan transportasi. Di balik proses tersebut terdapat berbagai jalur yang dapat mengantarkan lulusan menuju dunia profesional, mulai dari pengabdian sebagai ASN pusat dan daerah hingga karier di industri, BUMN, swasta, bahkan pengalaman kerja di lingkungan internasional.

Pilihan karier tersebut tentu berjalan bersama kompetensi yang dibangun selama pendidikan. Dari sinilah sekolah kedinasan transportasi menjadi salah satu ruang untuk menyiapkan SDM yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu berkembang mengikuti kebutuhan sektor transportasi yang terus bergerak dan berkembang. (TIM-AH/HG/ME/FM)