Sejak menjadi pegawai Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, saya memiliki satu whistlist, yaitu bisa berkunjung ke menara suar sambil melihat bagaimana seorang Penjaga Menara Suar bekerja menjaga keselamatan pelayaran.
Dan akhirnya setelah penantian belasan tahun, saya bisa berkunjung ke salah satu menara suar yang terletak di bumi laskar pelangi, yaitu Menara Suar Pulau Lengkuas, Belitung. Tentu kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk bertemu dengan para Penjaga Menara Suar (PMS) yang bertugas di pulau tersebut.
Untuk mencapai Pulau Lengkuas, saya harus menaiki kapal motor dari Pantai Tanjung Kelayang dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Banyak kapal motor yang siap untuk mengantarkan para wisatawan ke pulau-pulau Indah yang kini telah menjadi destinasi wisata internasional.
Ada hal yang membuat saya tersenyum bangga ketika para penumpang disodori life jacket saat naik ke atas kapal yang akan membawa kami ke Pulau Lengkuas.
"Silakan dipakai life jacket-nya, ini salah satu persyaratan keselamatan sebelum berangkat," ujar Ojie operator kapal yang mengantarkan kami ke Pulau Lengkuas.
Di sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan laut yang memanjakan mata disertai dengan ombak yang lumayan bikin jantung deg-degan. Tapi para penumpang tetap tenang karena sudah memakai life jacket, sebuah alat keselamatan yang sering diabaikan padahal fungsinya sangat besar sebagai pelindung diri jika terjadi musibah di laut.
Daya Tarik Pulau Lengkuas
Pukul 3 sore kapal motor kami tiba di Pulau Lengkuas. Begitu turun, kami dimanjakan dengan pemandangan yang memikat mata, pantai berpasir putih, laut biru jernih dan gugusan batu granit di sekeliling pulau, serasa mengajak kami untuk menceburkan diri ke pantai. Sinar matahari sudah tak terlalu terik menambah suasana nyaman dan betah berada di pulau tersebut.
Tak hanya sampai di situ, daya tarik utama Pulau Lengkuas yang menjadi primadona adalah keberadaan jejak navigasi berupa menara suar yang berdiri kokoh di tengah pulau.
Menara setinggi 70 meter ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda tahun 1882. Hingga saat ini, menara suar tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai penuntun lalu lintas kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.
Ketika memasuki area menara suar, saya bertemu dengan para penjaga menara suar yang tengah sibuk membersihkan area di sekitar menara suar dari sampah-sampah bekas para pengunjung yang seringkali membuang sampah tidak pada tempatnya.
Ya, kegiatan bersih-bersih seperti ini telah menjadi rutinitas mereka sehari-hari, bahkan terkadang mereka harus melakukannya hingga sore hari karena begitu banyak area yang harus dibersihkan, mulai dari halaman di sekitar menara suar, hingga selasar-selasar di depan mess PMS yang kerap dijadikan tempat berpiknik oleh para wisatawan.
Padahal tugas utama dari Penjaga Menara Suar adalah menjaga keselamatan pelayaran dan selalu melakukan pengecekan rutin lampu menara suar agar tetap berfungsi dengan baik. Saat malam tiba, mereka berjaga secara bergantian untuk memastikan lampu menara suar tetap menyala sampai pagi. Selain itu, para PMS juga harus melakukan perawatan dan membersihkan panel surya serta mengecek kamar mesin dan genset secara berkala.
Tak terbayang berapa banyak kapal yang bakal karam jika penjaga menara suar tidak menjalankan tugasnya menjaga cahaya navigasi, sehingga ribuan kapal selamat dari bahaya karam atau tersesat di tengah lautan.
Suka Duka Sang Penjaga Cahaya
Menara suar Pulau Lengkuas berada di wilayah kerja Distrik Navigasi Tipe B Tanjung Priok yang dijaga oleh 3 (tiga) orang PMS, yaitu Pak Adhitya (44 tahun), Pak Yosi (29 tahun), dan Pak Deny (26 tahun). Namun saat saya berkunjung, hanya ada Pak Adhitya dan Pak Yosi, sedangkan Pak Deny sedang sakit dan harus beristirahat.
Ketiganya masing-masing memiliki masa kerja yang berbeda-beda. Misalnya saja Pak Adhitya yang sudah 17 tahun bekerja sebagai PMS menceritakan suka dukanya dalam bertugas sebagai PMS.
“Saya sudah menjadi PMS sejak tahun 2009. Untuk sukanya kami selalu melakukan kegiatan bersama. Walau hanya bertiga, tapi kami sudah seperti keluarga dan sering bersenda gurau karena sama-sama anak rantau,” ujar pria asli Jakarta ini.
Sedangkan dukanya, harus tinggal jauh dari keluarga yang sudah menjadi risiko pekerjaan. Bahkan saat hari raya seperti Lebaran, Pak Adhitya tetap bertugas sehingga tidak bisa pulang kampung bertemu dengan keluarga.
“Saat Lebaran saya sering tidak bisa pulang untuk berkumpul dengan keluarga karena harus menjalankan tugas yang tak dapat ditinggalkan. Kalau lebaran dan masa liburan seperti ini justru banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke menara suar sehingga pekerjaan kami menjadi lebih banyak, tak sebanding dengan jumlah penjaganya yang hanya 3 (tiga) orang,” ungkap Pak Adhitya menceritakan pengalamannya.
Cerita berbeda datang dari Pak Yosi, yang bertugas sebagai PMS sejak tahun 2020 dengan status PPPK Paruh Waktu. Ia merasa bangga akan pekerjaanya sebagai Penjaga Menara Suar.
“Jujur saya bangga bisa bertugas sebagai penjaga menara suar yang memiliki peran vital sebagai pengarah kapal dan penjaga batas wilayah. Dengan saya bekerja di sini, berarti saya bisa mendedikasikan diri saya untuk turut menjaga keselamatan pelayaran,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia mengaku bersyukur ditempatkan di Pulau Lengkuas karena setiap hari bisa berinteraksi dan bertemu banyak wisatawan yang datang berkunjung ke Pulau Lengkuas, meski saat malam tiba ia kerap merasakan kesepian.
“Salah satu risiko menjadi PMS adalah harus rela jauh dari keluarga dalam waktu yang cukup lama. Apalagi kalau malam hari, saya terkadang merasa kesepian dan rindu keluarga,” imbuh Pak Yosi.
Sebagian besar waktu penjaga menara suar dihabiskan di pulau-pulau terpencil di tengah laut dengan hanya berteman ombak, terpaan angin, dan risikonya pun tidaklah ringan. Namun setiap 6 (enam) bulan sekali akan ada kapal yang datang untuk aplousing mengantarkan kebutuhan seperti bahan makanan, logistik, bahan bakar ataupun obat obatan serta setiap 1 tahun akan dilakukan perputaran tugas para PMS.
Ketika ditanya apa harapan para PMS yang bertugas di menara suar Pulau Lengkuas, jawaban senada yang begitu sederhana terlontar dari hati terdalam mereka.
“Kami hanya ingin masyarakat yang berkunjung ke sini dapat menjaga kebersihan area menara suar karena menara suar adalah fasilitas negara yang harus dijaga. Bantu kami dengan menjaga kebersihan dan kerapihannya saat berkunjung ke menara suar ini,” pinta Pak Yosi.
Selanjutnya mereka juga berharap Pemerintah Daerah dapat memberikan perhatian khusus dalam menyikapi masalah kebersihan di Pulau Lengkuas. Terlebih saat hari Raya Idul Fitri dan musim liburan sekolah, di mana terjadi lonjakan wisatawan yang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah sampah di Pulau Lengkuas.
“Kami berharap Dinas Kebersihan lebih proaktif dalan menangani sampah wisatawan agar Pulau Lengkuas Belitung selalu menjadi destinasi wisata yang dikagumi oleh para wisatawan,” pungkas Pak Adhitya menutup obrolan sore itu.
Sungguh luar biasa pengorbanan para PMS, sang penjaga keselamatan pelayaran. Tidak salah jika ada yang menjulukinya sebagai “Pahlawan Penjaga Cahaya”, karena mereka siap mengabdi untuk negeri di tempat sunyi.
––––––––––––––––––
Tulisan ini merupakan karya yang diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Transportasi 2026 yang ditulis oleh Presti Febriana dari Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
––––––––––––––––––
