Jakarta – Perkembangan dunia transportasi berlangsung semakin dinamis dengan hadirnya teknologi informasi terbaru. Hal ini menuntut kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompenen dan adaptif untuk pelayanan sektor trasnportasi untuk mendukung konektivitas. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu fokus penting yang dibangun Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP), Kemenhub menjalankan amanah Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2012 tentang penyediaan SDM transportasi dengan mengintegrasikan ilmu perkembangan teknologi ke dalam proses pendidikan.
Plt. Sekretaris BPSDM Perhubungan Arif Kurniawan mengatakan, dalam proses pendidikan BPSDM tidak lepas dari bagaimana memberikan ilmu terkait perkembangan teknologi yang semakin cepat.
“Perkembangan dunia transportasi memang sangat dinamis sekali, terutama dari sisi perkembangan teknologi. Tidak hanya dari sisi infrastruktur saja, tetapi peningkatan kualitas SDM juga menjadi perhatian utama,” ucapnya dalam podcast HubTalks episode 25.
Menurut Arif, perkembangan teknologi harus mengedepankan aspek keselamatan dan pelayanan karena kemajuan teknologi transportasi membutuhkan SDM yang andal, adaptif, kompeten,d an berdaya saing. “BPSDM juga melakukan update kurikulum tambahan yang mengadaptasi perkembangan IT. Perkembangan IT ini dilakukan tanpa mengesampingkan budaya keselamatan dan peningkatan kualitas pelayanan masyarakat bagi seluruh taruna-taruni kita,” ujar Arif.
Melalui program sekolah kedinasan, Kemenhub hadir membawa standar regulasi internasional dengan kurikulum dan fasilitas simulator yang telah mengadopsi standar IMO Model Course pada sektor laut serta ICAO Annexes pada sektor udara. Sementara itu, pada sektor darat terus dilakukan pembaruan yang mengikuti perkembangan teknologi.
“Kurikulum BPSDM tidak lepas dari Delapan Standar Nasional Pendidikan dan Pelatihan dari Kementerian Dikti. Secara regulasi internasional, sektor laut wajib mengikuti IMO Model Course dan sektor udara mengikuti ICAO Annexes, begitu pula pada sektor darat yang akan selalu kami update,” ucap Arif.
Standar tersebut juga disesuaikan pada sarana prasarana, kurikulum, dan tenaga pendidik serta dilengkapi dengan teknologi terkini. Salah satu yang mendapat perhatian adalah simulator yang digunakan taruna untuk latihan.
“Contohnya, simulator penerbangan disesuaikan kualifikasinya untuk pesawat Boeing wide-body, dan simulator pelayaran diseragamkan dengan standar kualifikasi A, B, dan C di seluruh sekolah. Di sektor darat, sarana prasarana terus dilengkapi untuk perkembangan ke arah electric vehicle (EV) dan autonomous vehicle,” jelas Arif.
BPSDM berupaya memastikan kompetensi yang diberikan kepada taruna dan taruni sesuai dengan apa yang dibutuhkan sektor transportasi masa depan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“BPSDM menerapkan prinsip link and match dengan dunia usaha dan industri. Kurikulum diperbarui secara berkala mengacu pada regulasi internasional IMO, ICAO, serta kebutuhan sektor darat dan masukan operator atau Pemda,” ujar Arif.
Menurut Arif, keterlibatan industri juga diwujudkan dengan menghadirkan dosen praktisi dalam proses pendidikan. Dengan demikian, taruna dan taruni tidak hanya mendapatkan pembelajaran dari lingkungan kampus, tetapi juga dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kebutuhan pekerjaan yang sebenarnya.
“Dalam memenuhi standar pendidikan, tenaga pendidik tidak hanya berasal dari internal, melainkan juga menghadirkan dosen praktisi industri. Para dosen dan instruktur juga dikirim untuk magang di perusahaan transportasi nasional maupun internasional guna memperbarui pemahaman kompetensi situasi kerja nyata,” ujar Arif.
Upaya memperkuat kompetensi tersebut juga diperluas melalui kerja sama dengan berbagai mitra internasional. BPSDM turut membangun kerja sama dengan sejumlah institusi di luar negeri seperti PTDI-STTD bekerja sama dengan Japan Railway Technical Service, STIP dengan Jiangsu University, dan PPI Curug dengan Kuala Lumpur International Airport.
Kerja sama tersebut tidak hanya berhenti pada hubungan kelembagaan, tetapi juga membuka kesempatan bagi taruna untuk mendapatkan pengalaman melalui program magang di luar negeri bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan.
“Proses penempatan ini melalui seleksi internal. Contohnya seperti kualifikasi bahasa Jepang N5 untuk peluang karir di Jepang. Taruna bahkan dapat mengikuti magang internasional di luar negeri sebelum lulus serta memperoleh sertifikat kompetensi pendamping ijazah,” ucap Arif.
Kompetensi teknis tetap menjadi dasar, namun pembentukan karakter, integritas, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, serta budaya keselamatan juga menjadi bagian dari pendidikan.
“Kami juga membangun SDM yang berintegritas dan disiplin melalui pendidikan boarding school dengan mengedepankan aspek humanis. Kami juga memberikan bekal berupa budaya keselamatan kepada lulusan, bagaimana nantinya menciptakan transportasi yang mengutamakan keselamatan,” ungkap Arif.
Pendidikan kedinasan transportasi juga dituntut untuk terus menyesuaikan diri menghadapi perkembangan teknologi yang akan terus bergerak di masa depan.
“Mereka juga harus adaptif, mampu berkomunikasi, dan bekerja sama. Khusus di sektor internasional, kedisiplinan, dan kompetensi menjadikan lulusan Indonesia sebagai garda terdepan yang mewakili nama bangsa di dunia internasional,” pungkasnya. (TIM-AH/HG/ME/FM)
